Indonesia Sebagai Pabrik Obat Herbal Terbesar Di Dunia

Indonesia Sebagai Pabrik Obat Herbal Terbesar Di Dunia

Negara Indonesia kaya akan berbagai macam tanaman tumbuhan herbal yang sejak dulu kalanya telah dipakai sebagai obat warisan nenek moyang.

Tetapi kenyataannya sekarang sangat bertolak belakang.


Kita ibaratnya seperti kapal tanpa nahkoda, pesawat tempat pilot, mobil tanpa sopir.


Ibaratnya penduduk kita seperti orang berjalan malam tanpa pelita.


Ini semua karena derasnya arus globalisasi serta modernisasi lewat media informasi yang telah memutarbalikkan otak kita seperti orang yang dungu.


Orang dungu adalah orang yang disuruh suruh orang lain karena otaknya tidak mau bekerja.


Ya contoh saja di bidang obat-obat tradisional atau nama lainnya sekarang yaitu obat herbal.


Banyak kita dapati sekarang orang orang tua atau orang-orang muda yang menderita penyakit berat berat seperti penyakit gula penyakit asam urat penyakit darah tinggi penyakit kolesterol penyakit kanker penyakit tumor dan berbagai macam penyakit lain yang sulit ditangani.


Ini semua karena pikiran kita telah terbawa arus oleh opini yang sangat banyak beredar di masyarakat yang umumnya tidak teruji kebenaran dan faktanya.


Kebodohan pikiran yang beredar di masyarakat kita sekarang salah satunya disebabkan oleh ketidakpatuhan kita dalam menjaga tradisi nenek moyang yang dahulu telah teruji keampuhannya. Salah satunya adalah minyak herbal asli Nusantara untuk pensteril luka. Baca tentang : Obat untuk mensterilkan luka secara alami


Contoh saja di kampung saya di daerah Sumatera Barat di sini dahulu banyak terdapat orang-orang tua yang ahli dalam berbagai macam ilmu pengobatan serta telah teruji khasiatnya serta kemanjurannnya.


Tapi karena kebiasaan untuk sering mencemoohkan ilmu dari orang yang tua-tua menyebabkan sekarang pola obat masyarakat telah beralih ke pengobatan medis yang lebih modern.


Namun kenyataannya pengobatan medis yang modern tersebut bukanlah suatu jalan untuk memecahkan seluruh masalah.


Memang ada baiknya kita untuk mengambil obat dan medis yang modern tapi bukan seharusnya kita menelan bulat-bulat apa yang diberikan oleh pengobatan medis tersebut.

Kalau kita mengkaji semua kembali ke pangkalnya tentu harusnya kita kaji dari mana asal ilmu pengobatan medis modern ini.


Ilmu pengobatan medis modern sekarang banyak berkiblat kepada negara Eropa.


Padahal kita tahu bahwa di negara -negara Eropa ada empat macam musim.


Karena ada empat musim tentu tidak semua tumbuh-tumbuhan yang bisa tumbuh dengan baik di negara tersebut.


Berbeda dengan Indonesia yang hanya memiliki dua macam musim sebab Indonesia adalah negara yang dilalui oleh lajur khatulistiwa.

Maka tidak heran bahwa di Indonesia banyak berbagai macam tumbuhan serta tanam-tanaman yang bisa tumbuh dan berkembang.


Dan hal ini telah dimanfaatkan oleh para leluhur dan nenek moyang kita dahulu sebagai bahan untuk meracik berbagai macam obat untuk menangani segala macam jenis penyakit yang pada saat itu.


Namun bodohnya generasi kita sekarang lebih banyak yang tidak mengenal akan potensi dari daerahnya sendiri.


Ini juga diakibatkan oleh kiblat pelajaran di sekolah-sekolah yang dianut oleh sebagian besar sekolah yang ada di Indonesia yang mengacu kepada metode sekolah di negeri Barat.



Tapi hal ini menurut saya sangatlah riskan kalau kita mempelajari sesuatu yang bukan ranah kita akan membuat kita terbentur oleh fatamorgana yang tidak akan dapat kita raih. Baca juga tentang : Lidah Bangsa Indonesia telah kena tipu.


Jadi sudah masanya kita sekarang mengembalikan kepercayaan diri kita untuk membangkitkan tradisi leluhur nenek moyang dalam mengamalkan berbagai macam pengobatan secara herbal.



Dan dengan potensi alam dan tumbuhan yang banyak berkembang di negara kita sudah saatnya Indonesia bisa menjadi penghasil obat herbal nomor 1 di dunia.


Ini semua bisa diwujudkan kalau kita kembali kepada semangat gotong royong nenek moyang kita serta adanya penghargaan untuk saling mencintai dan kasih sayang dan kembali kepada rasa kekeluargaan sesama kita.

No comments